By Lisa Febriyanti on Aug 31, 2007 in sapa | 20 Comments
Aku berdansa bersama bulan, gemulai diiring embun yang menerawang di udara
Aku berlomba bersama matahari, meliat memacu diri
Aku merajuk pada pelangi, bermanja melabuhkan resah yang merepih
Aku melangut pada hujan, dalam tetes airnya dan gemuruh suaranya
Aku berbisik pada angin, untuk menyampaikan pesan pada cinta yang terkebiri
Aku genggam bara api, kumpulan perih yang tak juga mau pergi
Aku bersetubuh dengan alam…dengan kata-kataku….
[LADANGKATA telah dinominasikan sebagai salah satu BLOG PENDATANG BARU TERBAIK versi PESTA BLOGGER 2007]
Popularity: 67% [?]
By Lisa Febriyanti on Sep 4, 2008 in dongeng | 3 Comments
(*) Frase dari Film Transformer (2007)

Optimus Prime pernah mengucapkan frase itu, demi menyelamatkan dunia dari serangan Megatron dan kawan-kawannya. Singkat, tapi begitu jatmika. Memiliki arti yang universal dan sangat dalam. Menyemangati sekaligus mengharukan. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan. Haruskah?
Ungkapan yang hampir serupa dengan frase di atas dalam ranah kearifan lokal kita adalah Jer Basuki Mawa Bea. Kurang lebih artinya, tak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Seperti saya bilang, makna dari frase itu adalah universal. Berlaku untuk segala usaha manusia mencapai keberhasilan atau bahkan the ultimate dream. Jika ingin meraih keberhasilan atau dalam hal ini saya sebut sebagai keputusan terbaik, ada “biaya” yang mesti kita keluarkan dengan kerelaan hati.
Read the rest
Popularity: 71% [?]
By Lisa Febriyanti on Sep 3, 2008 in dongeng | 4 Comments
Gaung pesta demokrasi nasional sudah dimulai. Indonesia kembali lagi mengalami hingar bingar panggung politik. Diawali dengan proses pilkada di berbagai daerah, suhu politik akan terus meningkat hingga tahun 2009 nanti. Keterbukaan, demokrasi dan bumbu budaya pop telah membawa pesta demokrasi nasional terus memijarkan rona-rona baru agar mampu meraup suara. Dan, “dress code” dari pesta kali ini adalah: popularitas.
Semua tahu, naiknya SBY ke tampuk kepresidenan pada pemilihan langsung tahun 2004 adalah berkat dongkrakan popularitas yang berhasil dibangun tim suksesnya. Dalam masa kampanye, sosok SBY diperkenalkan sebagai pemimpin yang terbuka dan dekat dengan pemilihnya (dengan membuka pintu Cikeas untuk bisa dikunjungi massanya). Dorongan iklan, serta hadirnya SBY di panggung-panggung unjuk suara dengan hobby menyanyinya, menjadikan efektivitas kampanye meningkat.
Belajar dari kemenangan SBY, para calon pemimpin negeri ini kemudian berbondong-bondong menarik perhatian massa menggunakan strategi komunikasi yang lebih menarik dalam kemasan. Tujuannya satu: memperoleh popularitas tinggi untuk meraup suara.
Read the rest
Popularity: 55% [?]
By Lisa Febriyanti on Sep 2, 2008 in bahasa, buku dan baca, dongeng | 4 Comments
Beberapa waktu yang lalu, ada secuplik perbincangan yang masih menggema di telinga saya hingga sekarang. Saya bercakap dengan seorang kawan seperjuangan yang sama-sama berkutat di bidang tulis menulis. Pertanyaan yang terlontar adalah, bisakah hanya dengan menulis dipakai untuk sandaran hidup?
Hmm…pertanyaan ini tidak bisa dijawab “YA” atau “TIDAK” dengan mudahnya. Ada standar dan faktor tertentu yang mengikutinya. Seperti, standar hidup macam apa yang ada di kepala masing-masing? Dan menulis untuk apa/lembaga manakah?
Faktor yang lebih penting mungkin yang kedua. Faktor pertama, bisa jadi sangat relatif. Sedangkan faktor yang kedua bisa menjadi penentu. Jika Anda menulis untuk media massa besar, maka tentu saja jawabannya menjadi cenderung “IYA”. Tetapi jika pekerjaan menulis itu dilakukan oleh kami-kami yang berjuang di wilayah freelance ini, maka mesti rajin-rajin mengejar proyek untuk bisa bertahan hidup, apalagi bagi yang sudah berkeluarga.
Beruntung sekali jika mendapatkan proyek yang berharga tinggi. Bisa sekali tepuk, maka hajat hidup beberapa bulan terpenuhi. Namun, hidup kan tak selalu seperti tokoh Untung di Donald Bebek. Kadang mesti bertahan juga dengan proyek kerja bakti tapi mampu membuat hidup terus berpendar.
Read the rest
Popularity: 59% [?]
By Lisa Febriyanti on Sep 1, 2008 in pelesir | 3 Comments

Ini sebenarnya catatan saya tahun lalu saat berkunjung ke Malaysia. Sempat saya rangkum beberapa paragraf, tapi kemudian tertinggal karena kesibukan lainnya. Kemarin, dalam rangka memenuhi tugas penulisan, saya sekilas membaca kemajuan-kemajuan Malaysia. Terlepas dari rasa sakit hati saya terhadap Malaysia yang suka ngaku-ngaku dan mencaplok milik kita, saya mengulum senyum terhadap keberhasilan Malaysia menjadi salah satu negara maju di Asia, mengungguli Indonesia yang lebih dulu memperoleh kemerdakaannya. Lalu saya pikir, tak ada salahnya catatan ini saya rekam di sini. Sebagai sebuah kronik tapak kaki di hari terakhir saya di Malaysia.
Saat hendak bertolak ke Malaysia, beberapa rekan saya di Jakarta sempat bilang. “Jangan lupa naik ke Genting Highland“. Di sanalah sebuah wahana wisata tingkat dunia dibangun. Tingkat dunia? yah, sebuah kasino bersanding dengan hotel yang memiliki kamar terbanyak di dunia ada di Genting Highland.
Yup, Genting Highland masuk di agenda saya terakhir pada kunjungan ke Kuala Lumpur. Berkat kunjungan ke MTC di awal kedatangan, mereka bisa mengaturkan wisata ke Genting Highland secara berombongan. Rasanya, ini cara terbaik bagi pelancong yang hendak ke Genting Highland. Pasalnya, jika naik kendaraan pribadi, perjalanan menjadi lebih lama. Karena harus mengarungi lereng-lereng gunung. Selain itu, MTC juga menyiapkan guide yang ramah, transportasi nyaman dan beberapa petunjuk saat tiba di sana.
Read the rest
Popularity: 46% [?]
By Lisa Febriyanti on Aug 28, 2008 in dongeng | 4 Comments

Pada suatu sore, selarik pelangi berbisik kepada saya.
“Kenapa kalo kita sendiri yang masak, makanan itu rasanya selalu enak? seamburadul apapun rasa yang ada?”
Lalu saya pun bertanya, “Emangnya kamu masak apa, duhai Pelangi?”
Dia menjawab lugas, tanpa banyak jeda yang diambilnya, “Kebahagiaan”.
Ah…dia selalu bisa saja begitu. Saya masih mengejarnya, “Dan tak peduli apa kata orang, meskipun masakan itu terlalu asin?”
“Itulah esensinya…agar orang lain merasakan asinnya”, Pelangi sore mengakhiri kalimatnya.
Read the rest
Popularity: 46% [?]